Fungsi Kawali dalam masyarakat Bugis

Kawali adalah sebutan Bugis bagi senjata tangan yang dipanggil sebagai badik oleh masyarakat Melayu. Ia adalah senjata wajib ‘dimiliki’ oleh masyarakat Bugis sebagai lambang identiti.

Merujuk kepada catatan ‘Fungsi Kawali dalam masyarakat Bugis’ berdasarkan Jurnal Pakarena Volume 4 No.1 (2019), Indonesia;

1. Pertama Fungsi Teknomik (Senjata Tikam) “Assigajangeng”.

Kawali dengan fungsi sebagai senjata biasanya tidak mementingkan keindahan pamor, kerana adanya kepercayaan masyarakat bahawa tidak ada pamor yang membunuh “degaga pamoro pawunu”, bahkan terdapat tuturan masyarakat di Bone mengatakan bahawa “nappemmaliangngi to-bone we pake luwu”, ertinya bagi orang Bone pemali mengunakan kawali luwu.

Kerana dapat difahami bahawa kawali luwu “dipalebbiri” atau dijunjung tinggi atas sebab keindahan pamornya. Ia bukan bererti kawali luwu tidak dapat dipakai untuk melukai/membunuh.

Dapat kita tarik sebuah konotasi bahwa kawali sebagai senjata tidak mementingkan pamor dan keindahan melainkan ketajaman dan racunnya “ammosoangeng”.

2. Fungsi Sosial
Kawali sebagai simbol kedewasaan.
Masyarakat Bugis percaya bahawa salah satu simbol ideal kedewasaan seorang lelaki bugis ketika ia telah menyisip kawali di pinggangnya, namun hal tersebut harus diimbangi dengan pemahaman dan cara berpikir yang tenang agar kawali yang disisip “ditappi” tidak sembarangan dibawa.

Kawali sebagai simbol status.
Status seseorang dalam masyarakat dapat diketahui dari kawali yang dimilikinya.

Bentuk kawali dan bahan yang digunakan menggambarkan kemampuan kewangan pemiliknya. Bahkan dahulu kawali jenis raja hanya boleh dimiliki oleh bangsawan
“ana’ arung”(Senewe, dalam Ubbe 2011:161).

Menurut tenri ewa bahkan kawali dengan pamor tertentu dibuat ketika seorang anak bangsawan akan menikah, misalnya pamor gamacca.

3. Fungsi Keagamaan
Masyarakat Bugis percaya bahawa kawali memiliki kekuatan magis/tuah dan tenaga yang mampu mempengaruhi hal tertentu.

Misalnya kawali dengan pamor “lekko ase” (daun padi) biasanya digunakan dalam ritual menanam padi dengan tujuan dan doa agar padi yang ditanam akan subur bermanfaat.

Kawali juga digunakan dalam ritual pengubatan bahkan untuk menepis ilmu “guna-guna” atau santet.

Jadi kawali tidak hanya sekadar benda pusaka saja melainkan memiliki falsafah yang luar biasa dalam masyarakat Bugis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: