KELEBIHAN MEMBERI MAKAN KEPADA ORANG YANG LAPAR

Diriwayatkan daripada Abu Zar al-Gifari r.a. katanya: “Telah bersabda Rasulullah S.A.W.: “Seorang Yahudi telah melaksanakan ibadah terhadap Allah selama enam puluh tahun di dalam gereja. Pada satu ketika hujan turun dengan lebatnya. Maka dengan sebab hujan itu tumbuhlah sekalian tumbuh-tumbuhan dengan suburnya.

Melihat keadaan bumi yang subur itu maka Yahudi yang kuat beribadah tadi berniat untuk melihat keindahan alam sekitarnya yang subur makmur itu. Di dalam hatinya dia berkata: “Alangkah baiknya seandainya aku berjalan jalan melihat keindahan dan kesuburan alam sekitar, di samping itu aku tetap berzikir mengingati Allah, pastilah akan bertambah lebih baik.

Kemudian abid tadipun turun daripada gerejanya untuk berjalan-jalan dan melihat-melihat keindahan alam sekitar ciptaan Allah itu. Dia membawa dua keping roti sebagai bekalnya. Ketika dia tengah berjalan-jalan menikmati keindahan alam ciptaan Allah itu, maka dia bertemu dengan seorang perempuan yang cantik.

Apabila ‘abid bertemu dengan perempuan itu, maka keduanya sentiasa bercakap-cakap dan berjalan bersama. Lama kelamaan si ‘abid jatuh cinta kepada perempuan itu, dan perempuan itupun suka kepada si ‘abid. Akhirnya keduanya tidak dapat menahan nafsu dan terjadilah perzinaan antara perempuan cantik dan si ‘abid. Setelah itu si ‘abid jatuh pengsan hingga beberapa saat.

Setelah dia sedar daripada pengsannya, dengan segera dia pergi ke satu tempat air dan diapun mandi di sana. Ketika itu tiba-tiba datang seorang yang kelaparan meminta rotinya. Oleh kerana tidak sampai hati melihat orang yang tengah kelaparan itu, maka diberikannyalah dua keping roti yang dimilikinya itu kepada peminta yang datang padanya.

Tidak berapa lama kemudian ‘abid tadi mati. Kemudian ditimbanglah sekalian amal ibadahnya yang telah dilakukannya selama enam puluh tahun itu. Dan ditimbang pulalah satu kesalahannya yang telah dilakukan itu iaitu berzina.

Tiba-tiba zina yang hanya sekali dilakukan itu lebih berat timbangannya berbanding dengan amal ibadah yang telah dilakukannya selama enam puluh tahun.

Oleh kerana timbangan dosa lebih berat daripada timbangan pahala, maka diletakkan pula pahala sedekah dengan dua keping roti yang pernah disedekahkan itu, maka timbangan pahala lebih berat dibanding dengan timbangan dosa, dan diampuni pula segala kesalahannya.

Sumber: Himpunan Kisah-Kisah Teladan 2, Nurulhas (1998)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: